HANGGUK.COM
SHARE :

Sejarah Kesenian Korea (4)

28
01/2021
Kategori : Budaya
Komentar : 0 komentar
Author : admin


Sejarah Kesenian Korea (4)


HANGGUK.COM
 – 
Patung menjadi salah satu hasil kesenian yang dihasilkan dari abad ke 8 Masehi di Korea.

Patung Budha yang berasal dari kuil gua Sokkuram memiliki bentuk tubuh besar dan wajah bulat. Ini bukan hanya sekedar patung tubuh dari batu saja. Ekspresi wajahnya yang tenang, bentuk tubuh besar, dan susunan terbentuk dari pakaian dibuat oleh tangan terampil menunjukkan pancaran kekuatan spiritual dan keagungan dari Sang Budha.

Relief batu yang mengelilingi patung Budha itu memiliki kualitas sama baiknya. Dalam bentuk patung Bodhisatva, tubuh feminin dibuat dengan luarbiasa di atas permukaan batu granit. Bentuknya, bagaimanapun terlihat dibalut oleh jubah, diselesaikan dalam sebuah cara yang menekankan bentuk tubuh dan mempertinggi kualitas spiritualnya.

Bentuk patung Budha itu mungkin saja terinspirasi dengan gaya yang berlaku di Dinasti Tang. Salah satunya patung Budha dari sekitar tahun 703 M di Kuil Baojing di Kota Xi’an, Tiongkok. Patung Budha Sokkuram kurang terlihat sekular dan erotis dibandingkan patung dari masa Dinasti Tang.

Kemunduran teknik dan gaya pembuatan patung di Korea dimulai di paruh kedua abad ke 8, ini diindikasikan oleh dua patung perunggu Budha yang duduk dari Kuil Pulguk kemungkinan berawal dari awal abad 9 Masehi.

Mereka mempertahankan bentuk bulat berisi dari wajah Budha Sokkuram. Namun, ukuran tubuhnya lebih memanjang dan pakaiannya menyesuaikan dengan gaya di masa tersebut sehingga kualitas spiritualnya terasa berkurang.

Gaya pembuatan patung seperti ini meningkat tajam sampai akhir abad ke 8 di Korea. Di abad ke 9 Kerajaan Silla Bersatu mulai mengalami kemunduran. Pemahat patung terpaksa mengurangi ukuran dari masing-masing bagian tubuh, baik patung yang diukir maupun cetak.

Sehingga hasil patungnya seringkali tidak proporsional. Sebuah patung besar memperlihatkan bagian kepala yang ditempatkan di atas tubuh kecil dengan bagian pundak miring.

Dari pertengahan abad ke 9, logam perunggu sedikit digunakan untuk pembuatan patung, kebanyakan di masa ini terbuat dari besi. Praktik yang terus dilakukan di masa Koguryo.

Seni dekorasi

Bagian besar dari keramik telah ditemukan hampir seluruhnya di sekitar Kyongju. Benda ini dicap dengan stempel berbentuk bunga, dan sebagian dilapisi warna kuning hijau. Stempel dan lapisan ini adalah teknik yang diperkenalkan oleh pengrajin tembikar di abad ke 7.

Atap dari bahan tanah liat dan ubin lantai berbentuk kotak turut diproduksi. Barang itu dibuat menggunakan cetakan bentuk bunga teratai, dan berbagai bentuk cetakan bunga lainnya serta dibuat untuk kuil Budha dan istana kerajaan.

Bahan hasil dari perunggu banyak terdapat di periode ini khususnya lonceng besar perunggu Budha. Empat lonceng dari masa Kerjaan Silla Bersatu dengan penjelasan terhadapnya dapat bertahan, dua diantaranya ditemukan di Jepang. Sebuah lonceng Korea di masa ini berbeda dengan lonceng Tiongkok atau Jepang.

Contohnya, lubang silindris lonceng yang langsung memanjang menuju puncak, di samping gambar naga yang melengkung. Di bagian permukaannya, baik di atas atau bawah lingkaran lonceng masing-masing diapit oleh sebuah lingkaran ornamental berbentuk horizontal.

Kemampuan para seniman Silla dalam membuat lonceng terlihat dalam lonceng perunggu kolosal dari masa Raja Songdok yang dibuat tahun 771 untuk Kuil Pongdok. Sekarang benda itu disimpan di Museum Nasional Kyongju.

Permukaannya dihiasi oleh relief dari dua malaikat terbang, sebuah contoh luarbiasa dari patung masa Silla Bersatu. Sebuah teks kuno berisi 830 karakter mendoakan pencapaian yang berhasil dibuktikan oleh Raja Songdok dan berharap dia diberkahi oleh kedamaian.

Gema suara dari lonceng ini unik dan bisa terdengar sampai bermil-mil jauhnya. Legenda menyebutkan suara unik ini berasal dari tangisan seorang anak yang dilemparkan ke tembaga cair ketika proses pembuatannya.

Tempat miniatur patung perunggu Budha untuk sharira terkadang ditempatkan di dalam pagoda batu. Contoh terbaik dari ini bisa dilihat di pagoda barat di situs Kuil Kamun, sebuah bentuk kotak yang ada miniatur botol kaca mengandung sharira ditempatkan di bawah kanopi dengan ditopang oleh empat tiang di sudutnya.

Tempat itu dilindungi dalam sebuah bagian luar kotak persegi dengan dilindungi oleh piramida. Masing-masing bagian dari kotak dihiasi dengan sebuah relief perunggu berbentuk salah satu dari Empat Penjaga.

Berita Lainnya