Komihwa
SHARE :

Sejarah Kesenian Korea (5)

2
02/2021
Kategori : Budaya
Komentar : 0 komentar
Author : admin


Sejarah Kesenian Korea (5)

HANGGUK.COM – Pada tahun 935 Masehi Kerajaan Silla Bersatu digantikan oleh dinasti yang baru saja muncul, Dinasto Koryo atau Goguryeo (918-1392).

Budhisme kembali berada di posisi menguntungkan dengan berada di bawah lindungan kerajaan. Kebudayaan di masa Koryo bertalian erat dengan kebudayaan di Tiongkok masa pemerintahan Dinasti Song (960-1279).

Hasil langsungnya adalah kemajuan kebudayaan kota di Kerajaan Koryo, kembalinya kehidupan kebangsawanan, dikedepankannya kepentingan petugas pengadilan, dan posisi dari pendeta tinggi agama Budha.

Kedamaian di kerajaan Koryo seringkali mendapatkan gangguan dari penyerang dari daerah Manchuria seperti Khitan, Juchen, dan akhirya orang Mongol (dinasti Yuan).

Tahun 1232 keluarga kerajaan Koryo melarikan diri ke pulau Kanghwa di muara Sungai Han sebelah barat dari Seoul. Mereka meninggalkan negerinya karena menghindari serangan yang dilakukan Mongol. Kesenian masa Koryo tidak lagi mendapatkan tempat seperti masa sebelum Mongol berkuasa.

Beberapa contoh original dari arsitektur masa Koryo berhasil selamat. Patung batu Koryo dan pagoda batu mengambil bentuk konstruksi yang berbeda dari masa Kerajaan Silla Bersatu.

Contohnya, banyak pagoda yang dibangun untuk memakamkan para Pendeta tinggi agama Budha. Bel kuil cetakan perunggu dibuat dengan baik. Meskipun bentuknya lebih kecil dibandingkan bel kuil di masa Silla Bersatu.

Banyak pendeta yang menyalin sutra Budha secara hati-hati menggunakan tinta emas dan perak di atas kertas berwarna biru pekat. Bidang percetakan dan kerajinan kayu menjadi inovasi terdepan yang tersentuh pembangunan negara.

Sebuah buku masa Koryo bisa disamakan dengan buku teknik cetakan yang terbaik dari masa Tiongkok Dinasti Song. Gulungan kayu terkenal yang merupakan edisi khusus mengandung Tripitaka, sebuah teks kanonik Budha dibuat di pulau Kanghwa pertengahan abad ke-13. Teks tersebut merupakan hasil dari pemerintahan pelarian Koryo di Kanghwa.

Lebih dari 80.000 gulungan kayu sekarang disimpan di Kuil Haein, yang digunakan untuk mencetak Tripitaka edisi pemerintah pelarian Koryo. Pencapaian besar lainnya dari kesenian masa Koryo adalah porselen dengan lapisan seladon.

Seperangkat benda dari lapisan seladon ini biasanya ikut dibakar dengan jenazah, dan berasal dari banyak pemakaman masa Koryo yang berhasil ditemukan di abad 21.

Hanya sepuluh contoh dari lukisan original masa Koryo yang masih ada dan kebanyakan darinya ditemukan di Jepang. Lukisan ini biasanya bertemakan tentang pekerjaan sederhana yang berkaitan dengan Budha. Terkecuali, ada beberapa fragmen yang menunjukkan adegan berburu ditujukan kepada Raja Kongmin (1351-1374).

Dua lukisan lainnya bertemakan pemandangan alam dari seniman yang berbeda. Hanya ada sedikit penilaian terhadap hasil seni di tempat isolasi ini, kecuali sedikit banyak terpengaruh gaya lukisan Tiongkok masa Dinasti Song.

Diantara beberapa contoh lukisan dinding kuil masa Koryo yang menunjukkan gambaran Budhistik terdapat di Chosa-dang (Aula Pendiri) Kuil Pusok (1377) dan lukisan tentang bunga-bungaan di aula utama Kuil Sudok (1308).

Diantara beberapa contoh lukisan makam yang penting dari masa Koryo adalah sebuah gambar dari dewa terbang (diperkirakan berasal dari abad 12 atau 13 salah satu dari bagian grup penghuni surga yang merupakan pelindung Budha) ditemukan tahun 1971 di dinding makam berlokasi di Koch’ang wilayah tenggara Korea Selatan.

Patung

Dibandingkan masa Silla Bersatu, patung dari periode Koryo bisa dinilai mengalami kemunduran baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Bagaimanapun, sesaat sebelum kemunduran dari gaya naturalisme ini, sebuah kualitas tradisi dari bagia utara Semenanjung Korea, mengalami revitalisasi.

Banyak bentuk patung besar secara mengagumkan tercetak dari besi. Bentuk sedang dari patung Budha sudah tidak lagi digunakan semenjak masa Silla Bersatu. Patung Budha dari besi ini diberi plaster juga diwarnai. Para seniman patung Koryo sering mencoba meniru gaya patung abad kedelapan dari masa Silla Bersatu.

Patung Besar Budha Besi sedang duduk di Museum Nasional Korea, Seoul merupakan contoh terbaik dari gaya revivalis Korea. Penggambaran sang Budha secara jelas terpengaruh oleh patung Budha Shakyamuni dari kuil gua Sokkuram masa Silla Bersatu.

Mata sipit memanjang, hidung mancung, dan beberapa kekakuan dalam pakaian yang melekat di diri sang Budha memberikan sebuah gambaran lumayan kualitas abstrak yang ditemukan dalam patung Budha besi setelahnya.

Dalam patung batu juga tentunya gaya revivalis Korea ini mudah sekali terlihat. Gaya ini hanya hidup dalam waktu singkat, dan di abad ke 12 para pematung Koryo terlihat menghilangkan bentuk besar dari patung Budha, dan porsi wajah bulat dari batu atau logam.

Kemunduran dalam teknik mematung ini diwakili kecenderungan bentuk abstrak dari beberapa figur di pertengahan masa Koryo. Contohnya, patung Budha Besi yang duduk di Ch’ungju.

Meskipun produksi patung secara besar-besaran mengalami kemunduran, pematung berkualitas masih dapat ditemukan di sebagian wilayah negeri. Salah satunya yang terkenal adalah seorang ahli ukir topeng kayu untuk pertunjukkan kesenian desa Hahoe dekat Andong, di sebelah tenggara Korea Selatan.

Topeng itu ditandai oleh semacam realisme eksotis. Bagian mata dari topeng itu diatur secara asimetris sehingga seakan bergerak ketika pergantian cahaya dan tirai pertunjukkan. Bagian hidungnya sangat tidak mencerminkan bentuk hidung orang Korea serta luar biasa panjang dan bengkok.

Secara terpisah bentuk dagu, seperti halnya hidung, sangat besar. Model topeng seperti ini diperkirakan datang dari Tiongkok di masa awal Dinasti Tang, ketika elemen kesenian Persia dan Asia Tengah menyebar ke Tiongkok.

Topeng seni Korea mungkin menampilkan gaya pertengahan di antara topeng Jepang yang terpengaruh secara langsung dan memang dibuat meniru gaya topeng Tiongkok.

Berita Lainnya